DBD Mewabah, Dinkes Inhu Turunkan Tim Penanganan Krisis

by -10 views
DBD mewabah di Inhu, Dinkes Inhu intensifkan pelayanan masyarakat

INHU – Dalam dua bulan terakhir, terdapat peningkatan kejadian Demam Berdarah di Indragiri Hulu, Riau. Tercatat satu orang korban meninggal di Desa Tanah Datar Kecamatan Rengat Barat Kabupaten Indragiri Hulu, Riau.

 

Kejadian inisangat meresahkan masyarakat Indragiri Hulu, telebih telah menelan korban Jiwa.

 

Peningkatan kejadian ini menjadi perhatian serius Dinas Kesehatan, karena kejadian penyakit ini merupakan tugas dan tanggung jawab Dinas Kesehatan dalam penangangannya.

Kepala Dinas Kesehatan Indragiri Hulu Elis Julinarti Melalui Kepala UPTD Puskesmas Pekanheran, Dwi ahmad Sudrajat SKM ketika di konfirmasi menyampaikan bahwa Pemerintah daerah tidak main main menindak lanjuti kejadian ini.

” Saat ini Kepala Daerah sudah langsung memonitoring langkah langkah yang sudah di kerjakan di tingkat Puskesmas,” ungkapnya.

Sampai saat ini telah di temukan 8 orang penderita DBD di tanah datar, 2 orang di sei dawu, 1 orang di desa sungai baung, 1 orang di desa pekan heran, 1 orang di Pematang reba, dan 4 orang di danau baru.

” Dari total seluruhnya, penderita DBD tersebut telah menelan korban jiwa 1 orang di Desa Tanah Datar, ” sebutnya.

Karena meningkatnya kejadian tersebut mulai 11 November 2019, Dinas Kesehatan melalui Ka UPTD Puskesmas telah menugaskan Tim penyelenggara dan penanganan krisis kesehatan Puskesmas untuk segera bergerak.

Tim ini langsung di ketuai oleh Dokter Puskesmas, beranggotakan Koordinator Promkes, Koordinator Kesehatan lingkungan, Koordinator P2P, Tim Surveilance, Tim Perawat dan Bidan.

Tim tersebut melakukan beberapa kegiatan diantaranya, penyelidikan epidemiologi ke lingkungan penderita DBD, penyuluhan langsung ke masyarakat agar aktif mencegah DBD, menelusuri seluruh masyarakat yang demam untuk di lakukan deteksi dini DBD, memetakan rumah-rumah penderita DBD dan tetangga yang demam
Melakukan fooging radius 100m dari rumah penderita DBD, memberikan percontohan kelambu untuk keluarga penderita DBD.

” Tim ini telah bergerak ke berbagai Desa di Wilayah Rengat Barat baik pagi, siang bahkan terkadang hingga malam. Setiap rencana kegiatan dan kegiatan yang telah dilaksanakan telah kami terbitkan di media social resmi UPTD Puskesmas Pekan Heran https://facebook.com/Puskespekanheran,” paparnya lagi.

Ketika disinggung kenapa fogging hanya dilakukan di beberapa titik, tidak di seluruh wilayah desa, Dwi Ahmad Sudrajat kembali menjelaskan bahwa fogging ini ada syarat nya yang sudah di tentukan oleh kementrian kesehatan.

” Syarat ini harus dikerjakan ketat karena, zat yang ada didalam fogging adalah zat kimia yang dapat dianggap racun,” jelasnya.

Selain itu, lanjutnya, fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, nyamuk dewasa yang mati akan digantikan kembali oleh telur telur nyamuk yang menetas dari dalam tempat penampungan air.

“Oleh karena itu fogging saja tidak efektif, perlu peran aktif dari masyarakat untuk bersama-sama melakukan pemberantasan sarang nyamuk. Dan kami menghimbau peran serta masyarakat untuk melakukan pemberatasan sarang nyamuk dengan melakukan gotong royong massal secara serentak dan serempak selama 6 minggu berturut turut untuk upaya memutus mata rantai,” singkatnya.

Terpisah, salah satu dokter Puskesmas Pekanheran Dr Reza Ariandes saat ditemui Gardaberita.com menjelaskan bahwa menurut kutipan situs Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (11/2/2016), Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Moeloek, Sp.M(K) menyatakan bahwa pengasapan (fogging) bukan strategi yang utama dalam mencegah demam berdarah dengue (DBD).

Fogging tidak dilakukan secara rutin, hanya dilakukan saat terjadi kasus di suatu wilayah, sehingga daerah di sekitarnya melakukan fogging untuk memberantas nyamuk sebagai vektor penyakit DBD.

Pencegahannya itu bukan melalui fogging, tetapi bagaimana kita menjaga kebersihan dan menghilangkan jentik nyamuk.

” Fogging ini memakai insektisida, sehingga kita khawatir ada resistensi,” katanya.

Dijelaskannya lagi, adapun tanda tanda terduga DBD yang paling sederhana adalah Demam tinggi yang di sertai bintik bintik merah di tubuh, pendarahan melalui hidung (mimisan), gusi berdarah dan BAB hitam.

” Gejala tersebut sangat di waspadai terutama setelah hari ke 3 hingga ke 7, karena jika memang DBD maka penderita tersebut dalam fase berbahaya,” tutupnya (GB4)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *